Hartabuta :
Ahad, 18-7-2022.
Aneka Versi Silsilah Joko Tingkir (Bahan Kajian) :
[17/7 01.12] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21:
https://www.kaskus.co.id/thread/5205791d05346a2258000000/silsilah-joko-tingkir-beberapa-versi
🔽
Silsilah Joko Tingkir (beberapa versi)
Ada 3 versi yng tersebar di situs yang telah saya kunjungi.
1. Sayidina Abdurrohman (Joko Tingkir) bin Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Sayidina Ishaq bin Ibrohim Samuro
2. Joko Tingkir bin Kebo kenongo bin Andayaningrat/Jaka sengara/Joko sengoro (versi babad jawa) bin Ki Bajul Sengoro Raja Buaya
3. Sayid Abdurrohman (Joko Tingkir) bin Sayid Syihabuddin (Ki Ageng Pengging) bin Muhammad Kabungsuan (Andayaningrat ) bin Syaikh Jumadil Kubro
Sumber versi pertama saya dapatkan dari garis keturunan Gus Dur yang tersebar di banyak blog di internet.
Sumber versi kedua berasal dari wikipedia yang mengambil sumber dari babad tanah jawi dan lain lain
Sumber versi ketiga dari sumber sumber sukapura dan pengamat nasab dengan nama id r-tb nurfadhil azmatkhan yng pernah mengunjungi blog sya sebelumnya
Dia menyebutkan ada naskah yang mencantumkan nama Andayaningrat sebagai Raden Pancala bin Syaikh Jumad/ Syaikh Jumadil Kubro dari sumber cirebon tahun 1800. Juga data yng didapat dari kelantan malaysia bahwa Andayaningrat sinonim atau orang yang sama dengan Muhammad Kabungsuan bin Syaikh Jumadil Kubro.
Berikut ini silsilah dari Garis Syaikh Jumadil Kubro versi ke 3 yang saya petikan dari sumber sumber sukapura dan ditambah dengan keterangan dari
[17/7 01.13] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: r-tb nurfadhil azmatkhan
Rasulullah Muhammad S.A.W
1. Sayidina Ali wa Sayidatina Fathimah Az-Zahra
2. Imam Husain Asy-Syahid
3. Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
4. Imam Muhammad al-Baqir bin
5. Imam Ja’far Ash-Shadiq bin
6. ‘Ali Al-’Uraidhi bin
7. Muhammad An-Naqib bin
8. ‘Isa An-Naqib bin
9. Ahmad Al-Muhajir bin
10. ‘Ubaidillah bin
11. ‘Alwi al-Mubtakir bin
12. Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah
13. ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin
14. ‘Ali Khali Qasam bin
15. Muhammad Shohib Mirbath bin
16. ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin
17. Abdul Malik Al-Muhajir bin
18. ’Abdullah Azmatkhan bin
19. Ahmad Syah Jalaluddin bin
20. Maulana Husin Jumadil Kubro bin
21. Muhammad Kabungsuan/Andayaningrat bin
22. Sayyid Shihabudin / Ki Ageng Pengging Bin
23. Sayyid Abdurrahman / Jaka Tingkir
[17/7 01.17] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Adiwijaya_dari_Pajang
🔽
Buka menu utama
Wikipedia
Cari
Adiwijaya dari Pajang
Pendiri dan penguasa pertama Kesultanan Pajang
Bahasa
Unduh PDF
Pantau
Sunting
Pelajari selengkapnya
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.
Pelajari selengkapnya
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.
Untuk kereta api milik PT Kereta Api Indonesia, lihat kereta api Jaka Tingkir.
Dalam tradisi Jawa Jaka/Joko Tingkir atau Mas Karèbèt adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang memerintah tahun 1549-1582 dengan nama Sultan Adiwijaya.
Asal-usul
Sunting
Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, Lahir pada tanggal 18 Jumadilakhir tahun Dal mangsa VIII menjelang subuh. Diberi nama "Mas Karebet" karena ketika dilahirkan, ayahnya Ki Kebo Kenanga dari Pengging Ki Ageng Pengging sedang menggelar pertunjukan wayang beber dan dalangnya adalah Ki Ageng Tingkir.[1] Namun suara wayang yang "kemebret" tertiup angin membuat bayi itu diberi nama "Mas Karebet".Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir) sejak saat itu masa remajanya lebih dikenal dengan nama "Jaka Tingkir".
Mas Karebet gemar bertapa, berlatih bela diri dan kesaktian, sehingga tumbuh menjadi pemuda yang tangguh, tampan dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng Sela yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi. Disamping tampan dan jagoan, sayangnya pemuda Jaka Tingkir alias Mas Karebet ini juga sedikit 'nakal' alias mata keranjang. Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Dalam perguruan ini ada murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Silsilah Jaka Tingkir
Sunting
Jaka Tingkir adalah putera Kebo Kenanga dan cucu Adipati Andayaningrat. Manakala Adipati Andayaningrat juga di kenali dengan Syarief Muhammad Kebungsuan.
Andayaningrat/Syarief Muhammad Kebungsuan/Ki Ageng Wuking I
Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya)
Kebo Kenanga
Nyi Ageng Pengging
Mas Karebet/Joko Tingkir (Adiwijaya Raja Pajang)
Nasab Adipati Andayaningrat/ Syarief Muhammad
Sunting
Nabi Muhammad SAW→ Sayyidah Fathimah Az-Zahra→ Al-Imam Sayyidina Hussain→ Al-Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin→Al-Imam Muhammad Al Baqir→Al-Imam Ja’far As-Sodiq → Al-Imam Al-Imam Ali Uradhi .→ Al-Imam Muhammad An-Naqib .→ Al-Imam ‘Isa Naqib Ar-Rumi→ Al-Imam Ahmad al-Muhajir → Al-Imam ‘Ubaidillah → Al-Imam Alawi Awwal→ Al-Imam Muhammad Sohibus Saumi’ah → Al-Imam Alawi Ats-Tsani → Al-Imam Ali Kholi’ Qosim → Al-Imam Muhammad Sohib Mirbath → Al-Imam 'Alawi Ammil Faqih→ Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan→ Sayyid Abdullah Azmatkhan→ As-Sayyid Ahmad Shah Jalal→ As-Sayyid Asy-Syaikh Jumadil Kubro al-Husaini/ Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini .→ Syarief Muhammad Kebungsuan /ADIPATI ANDAYANINGRAT / Ki Ageng Wuking I
Mengabdi ke Demak
Sunting
Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Beberapa kejadian menarik mengikuti Jaka Tingkir, baik dalam perjalanan menuju Demak maupun pada saat mengabdi di Demak.
Para pujangga zaman dahulu mempunyai kebiasaan (atau semacam kode etik) berupa menghaluskan kisah atas suatu kejadian yang menyangkut raja atau istana yang kurang sepantasnya diceritakan dengan menggunakan kisah kiasan. Ada beberapa kisah kiasan yang mengikuti perjalanan hidup Jaka Tingkir alias Mas Karebet.
Dalam perjalanan ke Kerajaan Demak, zaman dahulu sebagai alat transportasi dipergunakan getek (rakit bambu) melalui sungai. Jaka Tingkir ditemani oleh teman seperguruannya Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil. Versi kisah kiasan dari pujangga, dikisahkan bahwa dalam perjalanan itu di Kedung Srengenge (kedung adalah bagian sungai yang dalam) Jaka Tinggir diserang oleh segerombolan buaya. Karena jagoan, Jaka Tingkir berhasil mengalahkan buaya-buaya tersebut dan sebagai tebusannya dalam melanjutkan ke Demak Jaka Tingkir dikawal oleh buaya-buaya di sebelah kiri, kanan depan dan belakang sebanyak masing-masing 40 ekor. Para pujanggapun menciptakan gending (lagu) atas kejadian tersebut yang terkenal hingga kini, yaitu lagu 'Sigra Milir'.
Sesampainya di Demak, Jaka Tingkir tinggal di rumah pamannya Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir menarik simpati raja Demak Sultan Trenggana atas suatu kejadian. Di istana Demak terdapat sebuah kolam yang cukup besar. Pada suatu hari ketika Jaka Tingkir sedang berdiri di tepian kolam, tiba-tiba pamannya berteriak agar dia (Jaka Tingkir) segera menyingkir dari tempatnya, karena Sultan Trenggana segera lewat. Situasinya saat itu cukup sulit bagi orang biasa untuk menyingkir, karena tidak ada ruang buat menyingkir selain melompati kolam yang cukup lebar. Jaka Tingkir alias Mas Karebet yang terlatih dengan sigap dan mudah segera melompati kolam, agar tidak mengganggu jalannya Sultan Trenggana. Sultan Trenggana sangat terkesan melihat kejadian tersebut, sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Kejadian berikutnya versi kisah kiasan dari pujangga dikisahkan bahwa suatu hari Jaka Tingkir sebagai lurah wiratamtama bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan Sadak Kinang. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Kejadian sesungguhnya atas versi kisah kiasan Dadungawuk adalah sebagai berikut. Alkisah Sultan Trenggana mempunyai seorang puteri cantik bernama puteri Cempaka. Bukan Jaka Tingkir kalau tidak mengetahui ini dan tidak dapat menaklukan hati sang puteri. Secara diam-diam Jaka Tingkir menjalin hubungan dengan puteri Cempaka. Namun tindakan tidak terpuji ini sempat ketahuan, sehingga Jaka Tingkir diusir dari Kerajaan Demak.
Kejadian berikutnya menurut versi kisah kiasan pujangga, diceritakan bahwa pada suatu hari Sultan Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau yang dinamakan sebagai Kebo Danu. Kerbau Danu sudah diberi tanah pada telinganya, sehingga kerbau merasa tidak nyaman dan mengamuk. Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada prajurit yang mampu menaklukan si kerbau. Sultan Trenggana memerintahkan bala tentaranya untuk mencari Jaka Tingkir yang diharapkan dapat menaklukan kerbau tersebut. Jaka Tingkir diketemukan dan tampil menghadapi kerbau ngamuk. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Menjadi Raja Pajang
Sunting
Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana.
Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan Kakak kandung Sultan Trenggana sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.
Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.
Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.
Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Sunan Prawoto yang menjadi Adipatinya.
Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.
Sumpah setia Ki Ageng Mataram
Sunting
Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya Penangsang.
Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.
Menundukkan Jawa Timur
Sunting
Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Sultan Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.
Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.
Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Adiwijaya raja Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.
Pemberontakan Sutawijaya
Sunting
Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.
Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Adiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
Kematian
Sunting
Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.
Pengganti
Sunting
Adiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri sebenarnya adalah anak raja Demak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang Arya Pangiri sebagai penerus garis suksesi Sultan Demak dahulu.[2]
Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang "putra mahkota" disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang dengan nama tahta Ngawantipura.
Referensi
Sunting
Kedua nama "Ki Ageng" ini bukanlah nama asli tetapi nama sebutan yang terkait dengan asal daerah keduanya. Pengging adalah daerah di wilayah Boyolali sekarang dan Tingkir merupakan salah satu kecamatan di Salatiga.
Ricklefs, M. C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, Palgrave MacMillan, New York, 2008 (terbitan ke-4), ISBN 978-0-230-54686-8
Pustaka
Sunting
Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Sunan Prawoto Raja Pajang
1549—1582 Diteruskan oleh:
Pangeran Benawa
Terakhir disunting 6 bulan yang lalu oleh Inayubhagya
HALAMAN TERKAIT
Kesultanan Pajang
kerajaan di Asia Tenggara
Arya Panangsang
Ki Juru Martani
Wikipedia
Konten tersedia di bawah CC BY-SA 3.0 kecuali dinyatakan lain.
Kebijakan privasi Ketentuan PenggunaanTampilan PC
[17/7 01.31] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/groups/327670604460/posts/10159203982854461/
Keturunan Joko Tingkir hingga ke Dinasti Pemanahan
🔽
Ingin masuk atau bergabung dengan Facebook?
Gabung
atau
Masuk
Ingin masuk atau bergabung dengan Facebook?
Gabung
atau
Masuk
Sono Puspahadi, profile picture
Sono PuspahadiSILSILAH - TRAH BRAWIJAYA V
21 Februari 2021 pukul 12.14 · Facebook for Android ·
DAFTAR KETURUNAN SULTAN HADIWIJAYA / JOKO TINGKIR
RATNA PAMBAYUN PUTRIDALEM HINGKANG
SINUHUN PRABU BRAWIJAYA V, PAMUNGKAS DI MAJAPAHIT.
Menikah dengan Sri Makurung Prabu Handayaningrat yang terakhir, berkedudukan di Pengging. Runtuhnya keadaan Kerajaan Pengging senasib dengan Kerajaan Majapahit dari penyerbuan Islam.
Ratna Pambayun menurunkan 3(tiga) putera puteri, adalah :
1. Ki Ageng Kebo kanigara, tidak mempunyai keturunan;
2. Ki Ageng Kebo kenanga, menurunkan Mas Karebet, dan
3. Raden Kebo Amiluhur, dewasa wafat.
Mas Karebet pada waktu masih balita telah ditinggal wafat ayah, dan tak lama kemudian ibunya wafat. Sepeninggal orang tuanya diasuh oleh Ki Ageng Tingkir, beliau adalah seperguruan dengan ayah Mas Karebet. Oleh karenanya tempat tinggal berpindah dari Pengging ke Tingkir (letaknya dekat kota Slatiga), dan kebetulan Ki Ageng Tingkir tidak mempunyai keturunan.
Dalam riwayat Mas Karebet setelah dewasa mengabdi ke Demak menjadi prajurit Tamtama, karena berparas tampan dan cerdik diambil menantu oleh Sang Prabu, dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka.
Menurunkan 7 (tujuh) putera puteri, adalah:
1. Ratu Mas Pambayun, di Ngarisbaya;
2. Ratu Mas Kumelut, di Tuban;
3. Ratu Mas Adipati, di Surabaya;
4. Ratu Mas Banten, dinikahi Adipati Mondoroko, sebagai Patih dari Sinuhun Panembahan Senopati.
5. Ratu Mas Japara;
6. Adipati Benawa, nama gelar Sultan Hawijaya, di Pajang, dan
7. Pangeran Sindusena.
Tahun 1458 Sultan Hadiwajaya, dinobatkan raja di Pajang, dan berkuasa selama 32 (tiga puluh dua) tahun.
Sultan Ngawantipura, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 3 (tiga) tahun.
Adipati Benawa Sultan Hawijaya, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 1 (satu) tahun.
Setelah wafat Kanjeng Sultan Hadiwijaya dan puteranya Adipati Benawa, dimakamkan di Pasareyan Butuh, terletak di wilayah Kabupaten Sragen.
Kanjeng Adipati Benawa menurunkan 3 (tiga) putera puteri
yaitu :
1. Pangeran Mas, menjabat sebagai Adipati di Pajang.
2. Pangeran Kaputrah, di Pajang.
3. Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Hingkang Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, di Mataram, menurunkan putra Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Mataram.
Ratu Mas Banten, menikah dengan Adipati Mondoroko Ki Jurumartani, menjabat Patih Paduka Sinuhun Panembahan Senapati ing Ngalaga, di Mataram, menurunkan putera puteri :
1. Adipati Jagabaya Banten, menurunkan putra :
a. Adipati Senabaya Banten, menurunkan putra :
b. Kanjeng Panembahan Bagus Banten, menurunkan putra :
c. Raden Ayu Tirtokusumo ing Pancuran, menurunkan putra :
d. Raden Ajeng Temu, menikah dengan Adipati Sindurejo, menjabat Patih dari Hingkang Sinuhun
Paku Buwana III di Surakarta, menurunkan putra :
e. Kanjeng Bandara Raden Ayu Adipati Mangkunegoro II di Surakarta, menurunkan putra :
f. Raden Ayu Notokusumo (Raden Ajeng Sayati) menurunkan putra :
g. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro III.
Ini adalah Trah Keturunan dari Adipati Mondoroko Ki Jurumartani.
Adipati Mondoroko menurunkan putra :
Pangeran Hupasanta hing Batang, menikah dengan putri Adipati Benawa hing Pajang, menurunkan putra :
1. Kanjeng Ratu Batang, sebagai Prameswari Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu
Hanyokrokusumo, di Mataram.
2. Panembahan Mas, menjabat Adipati di Pajang putra dari Adipati Benawa, peputra Panembahan
Radin, Panembahan Ramawijaya, dan Raden Ayu Purbaya III.
3. Kanjeng Ratu Kulon, sebagai prameswari dari Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Agung ing
Mataram.
4. Pangeran Pujamenggala.
5. Pangeran Adipati Wiramenggala.
Ini adalah putra dari Pangeran Mas Adipati hing Pajang.
Pergantian Dinasti ke Putra Majapait No.14
RADEN BONDAN KAJAWAN / BONDAN KEJAWEN
Asal keturunan Raja di Mataram sampai dengan Raja Surakarta.
Ki Ageng Tarub II, memperisteri widadari bernama Dewi Nawang Wulan, menurunkan putra :
Dewi Nawangsih, kagarwa Raden Bondan Kajawan, putra Sinuhun Prabu Brawijaya V di Majapait. Kemudian memakai nama gelar Ki AGENG TARUB III, menurunkan 3(tiga) putra putri adalah :
1). Raden Dukuh Ki Ageng Wonosobo, menjadi putra menantu Sunan Maja Agung.
2). Raden Depok, Syeh Abdulah, demikian pula menjadi putra menantu Sunan Maja Agung
3). Rara Kasihan, menikah dengan Ki Ageng Ngerang I.
2). Raden Depok, kemudian memaki nama gelar Ki Ageng Getas Pandawa. menurunkan putera :
(1). Bagus Sogam, setelah dewasa bernama: Abdulrahman.
Tempat kediaman di desa Selo, memakai nama gelar Ki Ageng Selo.
Ki Ageng Selo menikah dengan :
1. putrinya Ki Ageng Wonosobo, masih keponakan dari saudara.
2. putrinya Ki Ageng Ngerang, masih keponakan dari saudara.
Putra dari isteri no.2, bernama : Bagus Anis, wafat dimakamkan di Astana Laweyan Sala. Garwanipun Ki Ageng Anis adalah putra dari Ki Ageng Wonosobo, menurunkan putra :
Bagus Kacung, nama gelar Ki Ageng Pemanahan, karena semula bertempat tinggal di desa Manahan Sala. Dan setelah putranya dinobatkan sebgai Raja Mataram, berganti nama gelar yaitu: Ki Ageng Mataram.
Beliau wafat dimakamkan di Astana Kota Gede, Yogyakarta.
Isteri dari putranya Pangeran Made Pandan menurunkan putra :
1. Adipati Manduranegara.
2. Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati di Ngalaga.
3. Pangeran Ronggo.
4. Nyi Ageng Tumenggung Mayang.
5. Pangeran Hario Tanduran.
6. Nyi Ageng Tumenggung Jayaprana.
7. Pangeran Teposono.
8. Pangeran Mangkubumi.
9. Pangeran Singasari.
10. Raden Ayu Kajoran.
11. Pangeran Gagak Baning, wafat dimakamkan berdampingan dengan Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati di makam Astana Kota Gede.
12. Pangeran Pronggoloyo.
13. Nyi Ageng Haji Panusa, di Tanduran.
14. Nyi Ageng Panjangjiwa.
15. Nyi Ageng Banyak Potro, di Waning.
16. Nyi Ageng Kusumoyudo Marisi.
17. Nyi Ageng Wirobodro, di Pujang.
18. Nyi Ageng Suwakul, wafat dimakamkan di Astana Lawiyan.
19. Nyi Ageng Mohamat Pekik di Sumawana.
20. Nyi Ageng Wiraprana di Ngasem.
21. Nyi Ageng Hadiguno di Pelem.
22. Nyi Ageng Suroyuda Kajama.
23. Nyi Ageng Mursodo Silarong.
24. Nyi Ageng Ronggo Kranggan.
25. Nyi Ageng Kawangsih Kawangsen.
26. Nyi Ageng Sitabaya Gambiro.
Jenjang urutan dari Prabu Brawijaya V.
Prabu Brawijaya V di Majapait, menurunkan putera puteri adalah :
Raden Bondan Kajawan, peputra :
Raden Getas Pendawa, peputra :
Kiyai Ageng Selo, peputra :
Kiyai Agepg Anis, peputra :
Kiyai Ageng Pemanahan, peputra :
Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati ing Ngalaga.
Keterangan foto tidak tersedia.
Keterangan foto tidak tersedia.
Mungkin gambar 1 orang
Keterangan foto tidak tersedia.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Bagikan
Komentar telah dinonaktifkan untuk postingan ini.
33 Kali Dibagikan
Lihat komentar sebelumnya…
Sono Puspahadi, profile picture
Sono Puspahadi
Guntur Fajar
No comment untuk hal tersebut karena satu dan lain hal ....
1 thSukaLaporkan
Sono Puspahadi, profile picture
Sono Puspahadi
Tag : mas Setiya Nugraha , mas Hariady Kesatria , pak Satro Dobleh ...tolong dicross- cek ada yang salah nggak ya .....
1 thSukaLaporkan
Nimas Ayu Egyana Puteri, profile picture
Nimas Ayu Egya... membalas · 3 balasan
Bening Suryaningtyas, profile picture
Bening Suryaningtyas
Nyimak
1 thSukaLaporkan
Akhyar Hadiwidjaya, profile picture
Akhyar Hadiwidjaya
nama lain Putra p Benowo yang bernam R sumohadiningrat siapa mas????
1 thSukaLaporkan
Akhyar Hadiwidjaya, profile picture
Akhyar Hadiwid... membalas · 18 balasan
McKinney Competltions, profile picture
McKinney Competltions
Di lain silsilah ada yg menyebutkan bahwa Jakatingkir itu putra sunan giri ??
1 thSukaLaporkan
Sono Puspahadi, profile picture
Sono Puspahadi
Guz Athif
Mana ada di grup ini ????
Siapa yang memposting ???
1 thSukaLaporkan
Sono Puspahadi, profile picture
Sono Puspahadi membalas · 6 balasan
Nur Hidayah, profile picture
Nur Hidayah
Nyimak kemawon
1 thSukaLaporkan
Hadi, profile picture
Hadi
🙏
Nyimak belajar
1 thSukaLaporkan
Aura Alfa, profile picture
Aura Alfa
Sepertinya tak ada yg harus diralat, artinya catatan silsilah benar.
1 thSukaLaporkan
Kanoman Wira Anubhawa, profile picture
Kanoman Wira Anubhawa
Barangkali ada catatan tentang beliau2 diatas yg bergelar dg kata Banten..apakah Banten yg skrg atau nama tempat lain Mas?
1 thSukaLaporkan
Teguh Raharjo, profile picture
Teguh Raharjo
Tolong terawang leluhur, Bang.. Wkwkwk.. :p
1 thSukaLaporkan
Guntur Fajar, profile picture
Guntur Fajar membalas · 3 balasan
RM BE Hamengkunegara, profile picture
RM BE Hamengkunegara
Ada yang kurang pas 🤭
1 thSukaLaporkan
Emha Mualif, profile picture
Emha Mualif
Nderek nyimak
1 thSukaLaporkan
Aslim Akmal, profile picture
Aslim Akmal
Kebetulan tadi pagi saya ziarah ke Raden Fatah menemukan makam Pangeran Benowo yg letaknya agak sebelah timur makam Raden Fatah
Keterangan foto tidak tersedia.
1 thSukaLaporkan
Aslim Akmal, profile picture
Aslim Akmal membalas · 4 balasan
Sono Puspahadi, profile picture
Sono Puspahadi
Aslim Akmal
Dalam konsep makam raja-raja Jawa jaman dulu sampai jaman sekarang ....selalu ada pola yang khas ... sekitar makam pasti ayahanda dan ibu nya ...atau saudara kandung ....
Jadi makam pangeran Benowo putra Sultan Hadiwijaya ada di belakang nisan Sultan Hadiwijaya di kompleks astana butuh, sragen...
1 thSukaLaporkan
Teguh Raharjo, profile picture
Teguh Raharjo membalas · 2 balasan
Akhyar Hadiwidjaya, profile picture
Akhyar Hadiwidjaya
Ada yang bilang makam Sultan pajang ada di kota gede makamnya
1 thSukaLaporkan
Iyud Sumodihardjo, profile picture
Iyud Sumodihardjo membalas · 5 balasan
R Hendrawan, profile picture
R Hendrawan
Nyuwun Sewu
Mau nanya
Putra pertama Eyang Ki Ageng Selo siapa njeh
1 thSukaLaporkan
Gentiem, profile picture
Gentiem
Jika terkait soal makam pangeran Benowo,sejarah daerah kami kabupaten Pemalang pernah di jabat oleh pangeran Benowo dan makam beliau ada di makam pahlawan penggarit,pemalang.hari jadi Pemalang di awali penobatan beliau sebagai Adipati saat itu karena Pemalang komplang,tidak punya pemimpin karena Adipati meninggal dunia.erat kaitanya kisah Pemalang dengan pangeran benowo.
1 thSukaLaporkan
Presy Tridartika, profile picture
Presy Tridartika
Up
12 blnSukaLaporkan
Kemas Yan Ahmad, profile picture
Kemas Yan Ahmad
Wong plembang menyimak Bae.
10 blnSukaLaporkan
Kus Aprianto, profile picture
Kus Aprianto
Ini tokoh Idola saya yg dikudeta anak angkatnyanggih..
9 blnSukaLaporkan
Kus Aprianto, profile picture
Kus Aprianto membalas · 2 balasan
M Brahma Atmowidjojo, profile picture
M Brahma Atmowidjojo
Makam dari mulai Ki Ageng Tarub & R.M. Bondan Kejawen s/d Ki Ageng Selo semua lengkap ada di daerah Grobogan JaTeng & pusaka" kerajaan Majapahit pun yang diboyong waktu keruntuhan Majapahit juga ada di Grobogan...
jadi mohon maaf sebelumnya jangan hanya terpaku sejarah kepada Majapahit saja tapi sebelum Majapahit juga perlu karna bagaimanapun peninggalan Mataram Kuno juga masih ada hingga saat ini & bukti" perpindahan kerajaan hingga ke Majapahit pun juga bisa ditelusuri...
🙏🏿🙏🏿🙏🏿
9 blnSukaLaporkan
Yusuf Karnadi, profile picture
Yusuf Karnadi
apakah sy msh ada rembesan Ki Tingkir...?
9 blnSukaLaporkan
Van Blitar, profile picture
Van Blitar
Ndherek nyimak saking tlatah Blitar 🙏
5 blnSukaLaporkan
Sultan Sultan, profile picture
Sultan Sultan
Mohon maaf..apa benar raden bondan anak BRAWIJAYA V dri selir orang BANDA...yg asalnya dayang..pada saat raja kena RAJA SINGA...dan disembuhkan oleh dayang tersebut
5 blnSukaLaporkan
Abi Almadani, profile picture
Abi Almadani
السلام عليكم
Perkenalkan saya Abi dr keturunan Jayakarta. kebetulan saya juga dititipkan peninggalan kitab yg dituliskan bersanad dr jaman Paman Hj Fatahila dan ki meong tuntu. sunda kelapa. yg bernama kitab al fatawi
Kitab tersebut dibuat 3 jilid
1. tentang silsilah
2. tentang tarikh atau sejarah pelaku perjuangan
3. tentang adat budaya betawi.
nah menurut tulisan yg dibuat oleh Ki Mas wisesa Adimerta/Ki juru mertani/Ki manderoko beliau pada saat itu menjabat mangkubumi Jayakarta. dan menikah dengan ratu mas ayu pembayun banten. Dan beliau yg bertugas menuliskan sejarah perjuangannya dijaman beliau. beliau mempunyai seorang anak yaitu Pangeran Ratu Jayakarta ke IV/Pangeran Wijaya krama III. yaitu leluhur kita. dan ki manderoko atau ki jurumertani dimakam kan dikota gede jogya. saya sudah pernah mendatangi dan berziarah kemakamnya. dari silsilah yg ditempat informasi makam silsilah beliau ke bawah tidak dicatatkan setelah saya tanyakan katanya memang ke jakarta. termasuk yg di.makam.kiageng wonsobo rden dukuh pun sama silsilahnya terputus.
Dituliskan dikitab keturunan kita sampai prabu brawijaya v.
mohon pencerahannya dan bukan untuk mencari perbedaannya
5 blnSukaLaporkan
Aldy Julianto, profile picture
Aldy Julianto
Numpang nanya .....apakah panembahan senopati ing ngalaga dengan panembahan senopati sedokrapyak atau mas djolang adalah orang yang sama ......mohon pencerahannya 🙏🙏🙏
5 blnSukaLaporkan
Annisa Wahyu, profile picture
Annisa Wahyu
Kalau haryo penoleh itu siapa
5 blnSukaLaporkan
Edisetyo, profile picture
Edisetyo
beda mas
5 blnSukaLaporkan
Wahyu Achmad, profile picture
Wahyu Achmad
Putune teko buyut e Raden Ja'far Shodiq
3 blnSukaLaporkan
Catatan Kriwilan :
[17/7 01.19] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.kompas.com/stori/read/2021/08/09/100622779/jaka-tingkir-pendiri-dan-raja-terhebat-kerajaan-pajang
[17/7 01.21] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Ada Anehn Shilshilahnya
🔽
https://amp.kompas.com/regional/read/2022/02/05/200521378/jaka-tingkir-silsilah-masa-kepemimpinan-dan-sejarah-makam-butuh
[17/7 01.23] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Makam Joko Tingkir
🔽
GWR2+924, Butuh, Gedongan, Plupuh, Dusun II, Gedongan, Kec. Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah 57283
[17/7 01.28] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Jaka Tingkir merupakan raja pertama dari Kesultanan Pajang yang berdiri di perbatasan Surakarta dan Sukoharjo. Ia merupakan putra dari Ki Ageng Butuh (Raden Kebo Kenanga) dari pernikahannya dengan Roro Alit putri Sunan Lawu.
و الحمد لله رب العالمين
صلى الله على محمد






0 komentar:
Posting Komentar